Sebilah Kisah Divisi Bambu Runcing di Ciwaru

info.kuncimaju.net, KuninganPasukan Siliwangi Kembali ke JabarDivisi Bambu Runcing (DBR) merupakan satu kesatuan militer yang pernah aktif bergerilya di beberapa daerah di Jawa Barat. Agresi Belanda yang pertama menjadi momentum bagi pembentukan lasykar ini. Eksistensinya dimulai ketika Divisi Siliwangi, tentara militer resmi negara, diharuskan hijrah ke Jawa Tengah sesuai dengan Perundingan Renville. Dalam perjanjian yang dibuat antara pemerintah Indonesia dan Belanda itu, Jawa dibagi menjadi dua bagian yang masing-masing dimiliki oleh Indonesia dan Belanda. Konsekuensi dari pembagian wilayah tersebut lah yang kemudian membuat Divisi Siliwangi harus meninggalkan tempat asalnya ke Jawa Tengah yang menjadi wilayah Indonesia.

 

Tidak semua elemen negara menyetujui perundingan dan ketetapan yang telah dibuat, beberapa di antaranya bahkan dengan terang-terangan mencibir dan mengabaikan kebijakan pemerintah tersebut. Jenderal Soedirman, yang sedari awal menginginkan perjuangan yang nyata dalam mengusir penjajah, akhirnya membuat kesepakatan dengan Tan Malaka, yang memang memiliki motto “merdeka 100%”, untuk menyikapi kekosongan Jawa Barat dari tangan para pejuang Indonesia. Menindaklanjuti kondisi vacuum of power tersebut, akhirnya Jenderal Besar Soedirman memberi ‘restu’ kepada Soetan Akbar, salah satu kader penting Tan Malaka yang pernah memimpin Lasjkar Rakjat Djakarta Raja (LRDR), untuk membangun kekuatan militer dan jaringan gerilya di Jawa Barat.

 

Sesampainya di tanah Pasundan, Soetan Akbar merintis satu kesatuan militer dan meminta beberapa kawan seperjuangannya di LRDR untuk mengobarkan perlawanan pada Belanda di wilayah Keresidenan Jakarta, Priangan, Bogor, Banten dan Cirebon dengan bendera Divisi Bambu Runcing. Dengan pertimbangan eksistensi Belanda pasca Agresi Militer I, Akbar memilih wilayah Keresidenan Cirebon sebagai basis perjuangannya karena saat itu wilayah yang memungkinkan untuk dapat tumbuh berkembangnya Divisi Bambu Runcing hanyalah area itu. Meski pada awalnya Akbar menginginkan satu garis komando yang nyata atas diaspora satuan-satuan kelompok DBR, dalam perkembangannya hal itu tidak dapat terjadi karena menjamaknya pelbagai kendala yang mengganggu rencana besarnya tersebut.

 

Di antara sebaran kelompok yang mengusung nama DBR, kelompok Soetan Akbar yang berkedudukan di Ciwaru Kuningan, ibukota Keresidenan Cirebon saat itu, adalah kelompok yang paling kuat. Selain karena dipimpin secara langsung oleh sosok cerdas dan berpendidikan seperti Soetan Akbar, DBR Ciwaru bermarkas di wilayah yang sangat strategis dan aman dari jangkauan Belanda. Di samping itu, Sastrosuwiryo, Abdul Chamdi dan Achmad Astrawinata, kawan-kawan seperjuangan Akbar di LRDR, menyokong dengan sangat baik posisi DBR di Kuningan bagian tenggara itu.

 

Pada mulanya, pemerintah Indonesia dan Divisi Siliwangi menganggap DBR sebagai kawan karena menilai lasykar itu memiliki tujuan sama, yaitu untuk mengusir Belanda dari tanah air bersama, sehingga kemudian pergerakan kelompok militer yang dipimpin Akbar itu tetap berjalan. Dalam perjalanannya, sikap resmi pemerintah terhadap DBR terus berubah karena, pelan tapi pasti, wajah perjuangan asli satuan lasykar itu mulai terlihat, menyerupai wajah garis politik Tan Malaka yang menuntut “merdeka 100%” dengan jalan apapun. Haluan perjuangan yang dianut DBR itu tampak dari aksi-aksi mereka yang membuat gerah pihak republik.

 

Dalam buku Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia, Abdul Haris Nasution menulis bahwa satu alasan penting yang membuat DBR layak dihapuskan adalah “keengganan mereka untuk dileburkan ke dalam Divisi Siliwangi”. Sikap itu dianggap sebagai tindakan pembangkangan karena telah melawan garis perintah pusat. Selain itu, sebagaimana ditulis Fachrudin dalam Divisi Bambu Runcing (DBR) Sosok dan Aktivitasnya di Celah-Celah Pendudukan Jawa Barat Juli 1947-Oktober 1949, penyitaan perbekalan dan penangkapan Kapten Rukman dari Divisi Siliwangi yang dilakukan oleh DBR dianggap sebagai pengkhianatan yang nyata.

 

“Tindakan Divisi Bambu Runcing yang menangkap Mayor Rukman telah mendorong Letkol Abimanyu, sebagai komandan Brigade V/Sunan Gunung Djati, untuk mengambil sikap yang tegas terhadap keberadaan Sutan Akbar beserta pasukannya”, ungkap Rinaldo A. Pratama dalam Kuningan Pada Masa Revolusi: Ciwaru Sebagai Pusat Keresidenan Cirebon Tahun 1947-1950. Menjelang tengah malam 14 Januari 1948, pasukan Siliwangi bergerak menyerang pos-pos Divisi Bambu Runcing. Dalam empat hari, operasi pasukan Siliwangi membuahkan hasil dan mereka dapat menduduki Ciwaru.

 

Korban berjatuhan dengan jumlah yang besar berasal dari kelompok DBR, sebagian lain melarikan diri, menyerah dan menjadi tahanan Divisi Siliwangi. Soetan Akbar sendiri dikatakan sempat melarikan diri menyeberangi Sungai Cisanggarung dengan iringan desing tembakan para tentara, namun kemungkinan ia meninggal karena tidak pernah diketahui rimbanya kembali. Namun, kematian Akbar pernah dikonfirmasi salah satu anggotanya. “Pemimpin DBR yang menjadi korban gugur serangan tentara adalah Sutan Akbar, Gatot, Suharya, Abu Bakar, dan Maulana,” tulis Baskara T. Wardaya, S.J. yang menggali informasi dari salah satu anggota DBR, dalam bukunya yang berjudul Suara di Balik Prahara: Berbagi Narasi tentang Tragedi ’65. Setelah operasi militer itu, praktis gerakan kelompok militer yang melakukan aksi-aksi agitatif ini pun berakhir.

 

Perlu disadari bersama, peristiwa tersebut merupakan noda dan catatan hitam dalam lembaran kertas putih sejarah bangsa Indonesia. Karena alasan-alasan yang belum jelas, pelbagai kelompok militer yang seyogyanya berjuang bersama melawan Belanda pun harus dihadapkan saling berlawanan dalam medan perang saudara. Semoga, sebilah kisah Divisi Bambu Runcing ini dapat menjadi cerminan bagi kita agar tidak lagi terjebak dalam ombak besar konflik saudara, tidak hanya saudara yang terikat karena hubungan keluarga, namun juga saudara karena seagama, sebangsa, dan senegara.

Tendy Chaskey

Bekerja di Deythaniez.Inc dan Madrasah Pembangunan UIN Jakarta. Pernah belajar di: Victoria University of Wellington dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sedang Melanjutkan Program Master di Universitas Indonesia - Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *