Mengunjungi Sanggar Aksara Jawa di Cikedung Indramayu

info.kuncimaju.net, Indramayu- Selama ini, hanya Cirebon yang dianggap oleh banyak kalangan sebagai daerah yang memiliki kekayaan budaya dan naskah kuna di jagat Ciayumajakuning.

Anggapan ituPujangga Cikedung dapat berkembang karena memang khazanah naskah di Cirebon tersokong kuat, terutama oleh nama besar keraton-keraton yang ada di kota udang tersebut.

Padahal, tidak hanya Cirebon yang kaya akan budaya tulis menulis kuna. Masih ada daerah Ciayumajakuning lain yang juga memiliki daftar naskah yang banyak jumlahnya, yaitu Indramayu.

Di daerah yang terkenal karena aliran Sungai Cimanuk ini, naskah-naskah yang ada tidak terhitung jumlahnya. Warisan budaya itu tersebar luas, baik itu yang berada di tangan suatu lembaga tertentu ataupun yang masih tersimpan di tangan masyarakat. Meski ada naskah yang dirawat dengan baik, sebagian besar lainnya tersimpan dalam keadaan yang buruk.

Melihat keadaan yang memprihatinkan tersebut, Tarka Sutarahardja yang akrab disapa Pak Tarka, tidak tinggal diam. Ia memutar keras otaknya agar dapat menemukan solusi yang tepat untuk permasalahan ini. Hasilnya, ia menggagas pendirian Sanggar Aksara Jawa Indramayu di rumahnya di Desa Cikedung Lor, Indramayu.

Pak Tarka mencoba menjaga naskah-naskah yang ada di tangannya. Warisan peninggalan masa lalu yang sudah hampir rusak tersebut, ia abadikan dengan kamera kecil yang ia miliki, kemudian ia alih aksara-kan dari aksara aslinya yaitu aksara Jawa Cirebon ke aksara latin. Setelah itu, ia terjemahkan ke bahasa Indonesia.

“Saya tidak mau anak cucu saya nanti tidak mengetahui budaya luhur yang dimiliki oleh para leluhurnya,” papar Pak Tarka saat ditanya kenapa ia mau melakukan konservasi naskah-naskah kuna ini.

Keris Cikedung

Pak Tarka yang juga seoarng pujangga Keraton Kacirebonan ini, mendapatkan naskah dari pelbagai macam sumber. Ada yang berasal dari sumbangan warga, pemberian sesepuh masyarakkat, ataupun sumber-sumber lainnya.

Di salah satu bagian rumahnya yang sengaja ia bangun luas untuk kegiatan kultural Jawa tersebut, Pak Tarka tidak hanya tersimpan naskah-naskah kuna saja. Ia juga menyimpan khazanah budaya Jawa lain yang ingin ia lestarikan, seperti keris Jawa, tumbak, tongkat, dan pelbagai catatan tentang pertunjukkan wayang, dan budaya Jawa lainnya.

Sosok yang aktif di Rumah Budaya Nusantara Pesambangan Jati Cirebon ini terlihat begitu telaten dalam menjaga warisan budaya masa lalu. Ia masih terus bersemangat menghimpun, menjaga, dan menggali makna-makna yang terkandung di dalam naskah-naskah tersebut.

Sayangnya, spirit kuat Pak Tarka tidak diiringi dengan irama yang sama dari pihak-pihak berwenang terkait. Bersama sejumlah kawan yang juga amat peduli budaya Jawa, Pak Tarka berkeinginan agar di kota kelahirannya tersebut berdiri sebuah museum yang dapat menjadi tempat penyimpanan warisan budaya Jawa dan Dermayu. Namun niat mulia tersebut belum terealisasikan karena pihak pemerintah sama sekali belum membantunya.

CIkedung4

Selain itu, naskah-naskah tulisan siap cetak yang ia terjemahkan dan gali dari pelbagai naskah kuna yang ada, juga belum bisa dipublikasikan secara luas karena terkendala oleh permasalahan biaya percetakan dan penerbitan. Padahal, apabila naskah-naskah tersebut dapat diterbitkan, maka sejarah, kehidupan, dan budaya masa lalu masyarakat Jawa Dermayu yang tersurat dalam pelbagai naskah kuna yang disimpan oleh Pak Tarka, dapat dilihat oleh masyarakat yang amat luas.

Tendy Chaskey

Bekerja di Deythaniez.Inc dan Madrasah Pembangunan UIN Jakarta. Pernah belajar di: Victoria University of Wellington dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sedang Melanjutkan Program Master di Universitas Indonesia - Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *