“Tjilimoes” Bukan (Bagian) “Koeningan”

info.kuncimaju.net, Kuningan- Pada 12 Desember 1883, Pemerintah Belanda mengeluarkan Staatsblad Van Nederlandsch-Indie. Dalam dokumen nomor 285, Staatsblad atau sejenis undang-undang negara, mengatur tentang pemerintahan Residen Cirebon. Dokumen yang ditandatangani oleh Sekretaris Jenderal, F. s’Jacob tersebut adalah sebentuk revisi terhadap Staatsblad nomor 73 (1 Maret 1874) dan nomor 117 (12 Mei 1875). Nama lengkap dokumen itu adalah “Bestuur Cheribon: Wijziging der indeeling van de residentie Cheribon in districten en onderdistricten.”

Staatblads 1874

Staatsblad yang diteken di Bogor (Buitenzorg), mengatur tentang pembagian kabupaten (regentschap of afdeling), district (kawedanan) dan onderdistrict (kecamatan). Karesidenan Cirebon, dalam staatsblad itu membawahi 5 afdeling, masing-masing; Cheribon, Indramajoe, Madjalengka, Galoeh dan Koeningan. Dibawah afdeling Koeningan ada Madjalengka ada 5 distrik, Galoeh 4 distrik, dan Indramajoe 3 distrik. Cheribon yang paling banyak, membawahi 8 distrik.

Menara Masjid Agung Cilimus
Menara Masjid Agung Cilimus

Tjilimoes (Kecamatan Cilimus sekarang) merupakan salah satu onderdistrict di regentschap of afdeling Cheribon di bawah distrik Beber, bersama distrik Cheribon, Beber, Mandirantjan, Sindanglaoet, Losari, Palimanan, Gegesik-lor dan Plumbon. Onderdistrict Tjilimoes ada di bawah Beber bersama dengan Beber, Korejak (sekarang Koreak, sebuah desa di Kecamatan Cigandamekar), dan Djalaksana (sekarang; Jalaksana). Di Distrik Beber, Wedana ada di Tjilimoes.

Jika saat ini Kecamatan Cilimus merupakan bagian dari Kabupaten Kuningan, saat itu, Tjilimoes adalah bagian dari Distrik Beber dibawah Regentschap Cheribon.

Menarik jika mencermati kebudayaan masyarakat Cilimus dalam format administratif Belanda (tahun 1883) dan sekarang. Dalam Stbl no. 285 tahun 1883, distrik yang berada di bawah Regentschap Cheribon terpolarisasi ke dalam dua kutub kebudayaan besar; Sunda dan Cirebonan. Semua onderdistrict di bawah Beber, Mandirantjan (kecuali Soember), dan Losari (kecuali Losari-lor dan Gebang) adalah wilayah dengan kebudayaan Sunda. Sisanya adalah masyarakat Cirebonan.

Pembagian wilayah administratif pasca kemerdekaan, membuat Cilimus dan Beber berpisah. Keduanya sama-sama menjadi sebuah kecamatan, tapi di dua kabupaten yang berbeda. Beber ada di Kabupaten Cirebon, sementara Cilimus masuk bagian dari Kabupaten Kuningan. Perpisahan keduanya menyisakan cerita yang menarik untuk dikaji lebih lanjut.

Walaupun ada di wilayah Kabupaten Kuningan sekarang, tetapi Cilimus sejatinya memiliki formasi kebudayaan yang unik dan sedikit berbeda dengan masyarakat yang dulu pada zaman Belanda masuk di wilayah Koeningan (Koeningan, Kadoe-gede, Loerahgoeng, Tjiawigegbang dan Lebakwangi). Bagi sebagian masyarakat Cilimus (yang saya wawancarai), Kuningan itu adalah kabupaten administratif, bukan “kabupaten kebudayaan.” Tentang kebudayaan masyarakat Cilimus ada dalam catatan lain.

Struktur kebudayaan yang melingkari masyarakat di utara Kuningan ini, justru lebih dekat dengan Beber yang sekarang ada di Kabpupaten Cirebon. Perhatikan misalnya wilayah-wilayah yang sekarang masuk Beber dan menggunakan Sunda sebagai bahasa pengantarnya.

Staatblad
Staatblad 1874

Cilimus seperti menjadi “Kuningan yang lain,” yang dalam batas-batas tertentu seperti halnya Beber sebagai “Cirebon yang lain.” Meski seperti “Kuningan yang lain,” Cilimus juga berbeda secara kultural dengan arus utama kebudayaan masyarakat Cirebon sekarang. Jika ada garis silang antara masyarakat Cilimus dengan Cirebon salah satunya bisa jadi karena faktor geneologis.

Keturunan Buyut Maijah, salah satu keluarga santri yang anak, cucu dan buyutnya banyak tinggal di Desa Timbang, Cilimus, Sangkanurip, Bojong dan beberapa tempat di Kecamatan Cilimus serta Mandirancan, mungkin bisa sebagai contoh. Perlu penelitian lebih lanjut untuk menguatkan hal ini.

Pada gilirannya, Cilimus ada di area budaya ambang batas atau liminal. Tidak Kuningan, tidak juga Cirebon, meski ia ada di Kuningan dan berarsiran dengan daerah-daerah Cirebon.

Note: Terima kasih Tendy Chaskey, yang membuka jalan bagi saya menulis coretan ini.

 

Penulis: Dr. Tedi Kholiludin, asli Cilimus, tinggal di Semarang. Tulisan diambil dari media sosial dan redaksi tidak diubah sedikitpun.

Tendy Chaskey

Bekerja di Deythaniez.Inc dan Madrasah Pembangunan UIN Jakarta. Pernah belajar di: Victoria University of Wellington dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sedang Melanjutkan Program Master di Universitas Indonesia - Jakarta.

One thought on ““Tjilimoes” Bukan (Bagian) “Koeningan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *